foto-anak-sd-pacaran-dan-berantem-di-facebook-buat-netter-prihatin-720x405

Di zaman modern ini, remaja Indonesia dihadapkan pada permasalahan yang cukup kompleks. Permasalahan ini timbul sebagai akibat dari kemajuan pengetahuan dan teknologi yang mengarah pada hal-hal yang negatif seperti globalisasi budaya, penyalahgunaan teknologi di berbagai bidang, kurangnya rasa nasionalisme dan masih banyak lagi. Permasalahan tersebut ternyata membawa dampak yang signifikan terhadap semangat belajar remaja di Indonesia. Pada tahun 2013, survey menyatakan bahwa minat baca remaja Indonesia menjadi 3 terendah di daerah asia. Hal ini terjadi karena remaja Indonesia lebih memilih menggunakan teknologi untuk mengakses sosial media dibandingkan sebagai perangkat bantu pembelajaran. Sosial media yang mudah diakses oleh remaja memberikan suguhan berupa budaya-budaya yang cukup bertentangan dengan adat istiadat orang Indonesia, kini sudah menjadi hal yang umum untuk dilakukan, seperti berpacaran.

akibat-dari-pacaran

Aktivitas pacaran sudah kita jumpai di berbagai tempat umum yang pelakunya adalah remaja usia sekolah. Remaja Indonesia menganggap bahwa berpacaran merupakan salah satu sarana untuk mendapatkan semangat belajar dan kemauan untuk berangkat ke sekolah. Ini adalah sebuah pembelaan yang dilontarkan untuk menutupi dampak negative dari berpacaran itu sendiri. Dampak negative ini sulit dibenarkan oleh sebagian besar remaja hanya melihat pacaran sebagai suatu fenomena umum yang tidak perlu memiliki dampak negative. Akan tetapi, kenyataannya berpacaran sangat memengaruhi kualitas belajar, waktu luang dan kegiatan membaca oleh remaja. Sebagian besar remaja sulit untuk mengarahkan pacaran pada hal positif karena pada dasarnya tujuan berpacaran adalah menjalin hubungan dan komunikasi yang baik atara laki-laki dan perempuan. Komunikasi yang baik dalam hal ini adalah aktivitas mengirim pesan dan pertemuan yang harus dilakukan secara rutin. Ini sedikit demi sedikit akan menggerus mental serta kualitas remaja di Indonesia.

Alasan_Pdkt_Yang_bikin_Pacaran_Enggak_Sehat

Ada beberapa kriteria kualitas remaja di indonesia seperti mampu berprestasi di luar dan di dalam kelas, kontribusi aktif dalam kegiatan sekolah, dan memiliki pengetahuan yang luas mengenai permasalahan yang ada di negara tersebut. Kriteria ini tidak akan terpenuhi dengan baik karena remaja akan menghabiskan banyak waktunya untuk berpacaran. Waktu yang digunakan untuk membaca buku minimal dua jam dalam sehari digunakan untuk mengirim pesan singkat, membuka sosial media, mengupload foto bersama, mengupdate tempat dan masih banyak lagi. Solusi untuk membendung hal-hal yang negative akibat berpacaran yaitu dengan menerapkan jam penggunaan ponsel pada anak remaja, melakukan manajemen waktu belajar dengan baik, membaca berita mengenai permasalahan dalam negeri dan memberikan solusinya, serta kontribusi aktif dalam perlombaan baik tingkat sekolah, provinsi maupun nasional.

Berpacaran bukanlah aktivitas yang perlu dilarang secara terang-terangan karena akan menimbulkan perdebatan dengan berbagai pihak. Akan tetapi, remaja dapat melakuan berbagai hal positif selain berpacaran seperti aktif dalam organisasi sekolah, mengikuti berbagai pelatihan dan lomba antar sekolah, berkontribusi terhadap kegiatan di lingkungan sekitar dan masih banyak lagi. Peran orang tua sebagai pengontrol sangat diperlukan karena remaja adalah sosok yang masih mencari jati diri dan ingin mencoba hal yang baru. Orang tua yang memberikan pengarahan, pengawasan dan saran akan membantu remaja Indonesia memiliki kualitas yang lebih baik. Jadilah generasi muda yang hebat, jangan generasi muda yang sesat dan tak beradab. Think Big !