Setiap manusia pasti memiliki masalah atau kesulitan. Terkadang masalah tersebut menyebabkan kesedihan, kegelisah, kekhawatir ataupun menghadirkan emosi lain yang tidak menyenangkan. Namun manusia yang sifatnya selalu mencoba untuk mengelak dan membela diri dari kelemahan diri sendiri akan mencoba untuk mempertahankan harga dirinya. Cara mempertahankan diri adalah dengan mengemukakan dalih ataupun alasan. Akan tetapi biasanya mereka membuat bentuk-bentuk penyelesaian masalah yang tidak riil, negative dan tidak menguntungkan. Hal tersebut merupakan pelarian diri dari setiap kesulitan yang ada atau bisa disebut dengan mekanisme pertahanan diri (Ego Defence Mechanism). Banyak macam bentuk dari mekanisme pertahanan diri, antara lain agresi, regresi, fiksasi, kompleks terdesak, rasionalisasi, proyeksi, teknik anggur masam, identifikasi dan narsisme.

Fearness

Mari kita jabarkan macam-macam bentuk dari Ego Defence Mechanism diatas. Yang pertama adalah agresi. Agresi merupakan reaksi terhadap kegagalan yang berupa serangan, perilaku berlawanan terhadap orang lain. Misalnya karena gagal dalam memperoleh nilai A, maka perilaku yang ditunjukkan adalah marah-marah terhadap teman yang dia anggap lemah, dan dia akan berlaku sewenang-wenang bahkan sangat kejam. Lain halnya dengan regresi. Regresi adalah perilaku yang surut kembali pada pola reaksi atau tingkat perkembangan yang primitive, yang tidak adekuat, infantile, kekanak-kanakan dan tidak sesuai dengan tingkat usianya. Contohnya adalah berguling-guling di tanah, mengisap ibu jari, menangis meraung-raung dan menghentak-hentakan kaki. Yang ketiga adalah fiksasi. Fiksasi merupakan perilaku tegar yang ingin mempertahankan ketidakgunaan atau ketidaksesuaian. Contohnya adalah membisu, memukul-mukul diri sendiri, membentur-benturkan kepala di dinding, membanting piring dan lain lain. Hal itu dilakukan bertujuan untuk “alat pencapaian tujuan”, sebagai alat pembalasan dendam terhadap kesulitan yang dialami. Yang keempat adalah Kompleks Terdesak. Bentuk penyelesaian ini usaha menghilangkan dan menekan isi-isi kejiwaan yang tidak menyenangkan dan kebutuhan manusiawi ke dalam ketidaksadaran atau kealam bawah sadar. Contohnya adalah peristiwa yang mengganggu dalam alam sadar belum tuntas sehingga akan muncul dalam mimpi-mimpi yang menakutkan, salah baca, salah ucap, atau mengigau. Yang kelima adalah Rasionalisasi yaitu proses pembenaran perilaku dengan mengemukakan alasan yang masuk akan atau bisa diterima secara sosial, untuk menggantikan alasan yang sesungguhnya. Contohnya adalah karena ditolak oleh pasangan, sehingga pernyataan yang muncul “Dia ternyata bukan yang aku cari (bukan idamanku)” bentuk ini bisa menjadi Ego Defence Mechanism yang positif karena kita berfikir secara rasional, bukan hanya membawa perasaan yang dalam yang bisa mengakibatkan frustasi atau sebagainya. Yang selanjutnya adalah Proyeksi yaitu usaha melemparkan atau memproyeksikan sifat, pikiran, dan harapan yang negative, juga kelemahan dan sikap sendiri yang keliru pada orang lain. Atau singkatnya melempar kesalahan sendiri pada orang lain. Contohnya adalah karena iri terhadap kesuksesan teman yang selalu mendapatkan nilai A, maka pada orang lain yang dikatakan adalah teman tersebut iri padaku, dia selalu cemburu. Yang selanjutnya adalah Teknik Anggur Masam. Teknik ini merupakan usaha memberi “label” yang tidak baik, tidak berharga atau negative pada obyek yang tidak bisa dicapainya, meskipun obyek tersebut sangat diinginkannya. Contohnya adalah seorang mahasiswa yang tidak lulus dalam mata kuliah Kesehatan Mental, berkata bahwa “pertanyaan yang diajukan dosen tidak berkualitas”. Selanjutnya adalah Identifikasi. Bentuk Ego Defence Mechanism ini adalah usaha mempersamakan diri sendiri dengan seseorang yang dianggap sukses dalam hidupnya. Mengasosiasikan diri secara akrab dengan satu kelompok atau satu sebab. Contohnya adalah karena gagal dalam memperoleh pekerjaan, maka individu tersebut mengidentifikasi dirinya dengan tokoh ataupun idola yang sukses. Tujuan dari teknik ini adalah untuk memberikan kepuasan semu dan didorong oleh ambisi untuk meningkatkan harga diri. Yang terakhir adalah Narsisme, yaitu cinta pada diri sendiri yang ekstrim, perhatian yang sangat berlebihan pada diri sendiri. Contohnya adalah selalu memuji dirinya sendiri. Hal ini mengakibatkan dia kadang tidak mau mengakui kesalahan yang diperbuat.

Seni-Pertahanan-Diri

Beberapa bentuk mekanisme pertahanan diri diatas adalah hal yang sering dilakukan untuk menenangkan diri dan menghindari kesulitan-kesulitan dalam hidup.